Sistem silvikultur Tebang Pilih Tanam Indonesia diterapkan sejak tahun 1989 yang didasarkan pada iformasi mengenai komposisi, struktur dan pertumbuhan hutan tanah kering dengan mendasarkan pada riap jenis Dipterocarpaceae. Penerapan sistem silvikultur TPTI pada tipe hutan lainnya disesuaikan dengan sistem yang ada, karena informasi mengenai sinekologi maupun autekologi dari masing-masing tipe hutan belum banyak didapatkan. Sistem TPTI mengatur tentang pengelolaan hutan untuk menjamin keberlanjutan keberadaan maupun manfaat hutan tersebut. Pengaturan tentang penebangan dan pembinaan hutan alam produksi juga terdapat dalam sistem ini. Selain itu, ada pula pengaturan untuk enjamin regenerasi secara alami untuk menggantikan pohon yang telah ditebang. Keberhasilan penerapan sistem silvikultur TPTI ini dapat dilihat dari kondisi permudaan alam dan tegakan tinggal dalam suatu ekosistem hutan (Sudirman 2002).
Peraturan yang dibuat sistem silvikultur TPTI tentang penebangan, yaitu berdasarkan riap tumbuh tegakan, misalnya limit penebangan, tidak dapat dipertanggungjawabkan (Gunarso, dkk 2009 ). Hal ini dikarenakan intensitas yang terkadang terlalu tinggi dan rotasi yang pendek, sehingga pemulihan tegakan pasca penebangan tidak terjamin dapat terlaksana secara utuh. Pemulihan tegakan dapat dilihat juga melalui proses permudaan alamnya. Proses ini dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya persaingan tumbuh dan adanya perubaan susunan jenis pohon dalam tegakan hutan. Permudaan alam merupakan salah satu aspek ekologi yang berperan penting terhadap pembentukan struktur tegakan hutan dan juga terhadap penyediaan tegakan baru bagi rotasi tebang berikutnya. Syarat kecukupan permudaan alam secara ekologis (Wyatt dan Smith 1963) yaitu sebagai berikut:
1. Terdapat minimal 40% permudaan semai jenis komersial atau 400 petak ukur per 0,4 ha.
2. Terdapat minimal 60% permudaan pancang jenis komersial atau 96 petak ukur per 0,4 ha.
3. Terdapat minimal 75% permudaan tiang jenis komersial atau 30 petak ukur per 0,4 ha.
Wyatt dan Smith (1963) juga mengemukakan jumlah permudaan dianggap mencukupi jika tersedia minimal 1000 permudaan tingkat semai, 240 permudaan tingkat pancang, 75 permudaan tingkat tiang dan 25 tingkat pohon per hektar luasan. Permudaan tingkat semai dengan jumlah tertinggi ini disebabkan kaena adanya penebangan maupun pembukaan lahan untuk akses jalan sarad sehingga banyak cahaya matahari yang masuk akibat terbukanya area yang kemudian merangsang pertumbuhan semai atau anakan pohon yang ada disekitarrnya. Pertumbuhan dan regenerasi semai akan semakin meningkat sampai menuju jumlah maksimal dan kemudian akan menurun seiring meningkatnya persaingan ruang, cahaya dn hara, sehingga jenis yang mampu beradaptasilah yang akan bertahan
Syarat kecukupan ini digunakan untuk mengeahui besarnya persentase tingkatan permudaan yang dibutuhkan untuk regenersi tegakan untuk rotasi tebang berikutnya. Hal ini juga dapat digunakan untuk mengetahui komposisi jenis pada berbagai tingkatan sebagai dasar pertimbangan dalam pengelolaan dan pemanfaatan hutan, misalnya pengelolaan dengan sistem TPTI. Kegiatan dalam sistem TPTI ini dapat mempengaruhi keberadaan dan penyebaran pohon. Kegiatan penebangan dengan sistem TPTI ini juga menyebabkan keterbukaan tajuk sehingga akan mengubah tinggi strata tajuk
Pada hutan alam primer, umnya jumlah pohon untuk semua jenis akan semakin sedikit seiring dengan kenaikan kelas DBH, namun volume pohon mengalami peningkatan seiring dnegan kenaikan kelas DBH. Jika dikaitkan dengan sistem TPTI, kegiatan penebangan tidak akan mempengaruhi pola penyebaran pohon berdasarkan kelas diameter,yaitu dengan pola penyebaran berbentuk J-terbalik jika tetap mempertahankan pohon inti. Sistem tebang pilih hanya akan berpengaruh terhadap komposisi jenis, keanekaragaman dan struktur tegakan pada awal penebangan saja, sedangkan seiring waktu terjadi pula penigkatan regenerasi dan pertumbuhan dengan baik sehingga akan terjadipemulihan kondisi vegetasi ke tingkat klimaks jika syarat kecukupan permudaannya pun terpenuhi.

DAFTAR PUSTAKA
Gunarso P, Setyawati T, Sunderland TCH, Shackleton C. 2009. Pengelolaan sumberdaya hutan di era desentralisasi: pelajaran yang diperoleh dari hutan penelitian Malinau, Kalimantan Timur, Indonesia. CIFOR, Bogor,Indonesia
Sudirman. 2002. Permudaan alam dan tegakan tinggal di hutan rawa gambut bekas tebangan (Studi kasus di BKPH Duri, Kabupaten Bengkalis, Riau) [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Wyatt-Smith, J. 1963. Manual of malaysia silvicultur for inland forest II (23): III 4/9 – III 4/13. Malayan Forest Records.

Khaerlita Syahri
E44100020

Aksi Nyata Generasi Muda Dalam Memerangi Narkoba

Masalah kaum muda dalam masyarakat menjadi perhatian besar saat ini. Kaum muda yang notabene adalah generasi penerus dan penentu nasib bangsa ini masih sangat labil dan mudah terpengaruh oleh faktor luar, tak terkecuali faktor-faktor negatif. Salah satu yang menjadi permasalahan dalam kaum muda adalah narkoba. Berdasarkan survei, sebanyak 75% pengguna narkoba adalah remaja. Penggunaan obat terlarang ini juga dapat mengakibatkan tindak kriminal, misalnya dengan mengonsumsi narkoba, remaja menjadi lupa diri dan dapat melakukan tindakan di luar kendalinya. Sama seperti minuman keras dan rokok, pemakaian obat-obatan ini juga dapat menimbulkan kecanduan, yang mengakibatkan pemakainya tak bisa berhenti untuk mengonsumsinya. Sekali saja tidak mengonsumsinya maka para pecandu narkoba akan mengalami sakau. Jika drmikisn, mereka akan terus menerus mengunakan narkoba.
Penggunaan narkoba oleh para remaja disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya karena kurangnya pembinaan dan pengawasan dari keluarga terutama kedua orangtua, faktor lingkungan, rasa ingin tahu, hingga ajakan dari teman yang kemudian akan menjerumuskan remaja ke dunia narkotika dan obat-obatan terlarang.
Kini pengguna narkoba di Indonesia semakin meningkat. Tak hanya di kota besar saja, kini narkoba sudah menjamah ke pelosok-pelosok negeri ini. Korban yang diincar tentu saja kaum muda yang menjadi ujung tombak kemajuan bangsa. Bagi para remaja pengguna narkoba, obat-obatan yang mereka konsumsi dapat membuat mereka merasa tenang, terbang, melayang, meningkatkan rasa percaya diri, konsentrasi, dan lain-lain. Namun dibalik itu semua narkoba akan merusak baik diri mereka sendiri maupun orang lain. Penggunaan narkoba akan mengganggu kesehatan pecandunya, tak jarang para remaja mati sia-sia hanya karena mengonsumsi narkoba. Dampak sosial juga dapat ditimbulkan akibat mengonsumsi narkoba, misalnya menyusahkan orangtua, dikucilkan masyarakat, tidak dipercaya, hingga dapat di-drop out dari sekolah atau kampusnya.
Narkoba bukan lagi menjadi barang mahal yang sulit untuk dibeli. Maraknya perdagangan narkoba dengan harga paket pun dapat dengan mudah dicari. Narkoba dapat diperoleh dengan mudah kapan dan dimana saja. Peredarannya tak jauh-jauh dari kaum muda yang mudah terprovokasi dan terpengaruh hingga tak heran sebagian besar pengguna narkoba adalah kaum remaja dan setiap tahun jumlahnya terus meningkat.
Kaum muda yang merupakan generasi penerus bangsa seharusnya mampu menghindari arus peredaran narkoba yang sangat dahsyat ini. Negara berkembang seperti Indonesia ini, harusnya memiliki kaum muda yang intelek dan jauh dari narkoba. Jika kaum mudanya sebagian besar terjerumus dalam dunia narkoba, bagaimana dengan nasib bangsa ini?. Tentunya bukan kemajuan yang didapat melainkan kemunduran bangsa. Tak perlu saling menyalahkan akan keadaan ini karena hanya akan membuang-buang waktu saja. Kewajiban kita semua untuk memerangi bahaya narkoba. Terutama kita sebagai generasi muda yang akan meneruskan perjuangan dan cita-cita para pendahulu kita. Jadilah kaum muda yang intelek, santun, dan dapat berguna bagi orang lain tanpa harus menggunakan narkoba.
Let’s fight againt drugs!!!

Mutiara Fajar

Udara malam Kota Jakarta menusuk hingga tulangku. Aku menyusuri jalanan menuju rumahku. Sepi, hanya kata itu yang bisa aku tangkap dari kompleks perumahan yang terlihat seperti penjara ini. Semua penghuninya sibuk dengan kegiatannya masing-masing, entah itu siang ataupun malam.
Aku merogoh saku rok sekolahku dan mengambil handphone. Jam 11 tepat, sudah terlalu malam untuk remaja seusiaku yang masih berada di luar rumah sejak pulang sekolah tadi. Tapi hal itu tidak berlaku di kota besar seperti Jakarta ini. Bahkan banyak remaja yang tinggal sekompleks denganku masih berkeliaran di luar rumah hingga menjelang subuh. Gaya hidup yang serba bebaslah yang membuat mereka seperti itu. Dugem, minum, obat, hingga seks bebas menjadi hal yang biasa. Aku pun terbawa arus pergaulan yang seperti itu. Sebenarnya, dulu, aku tak pernah terpikir bisa terjerumus ke dalam semua kebodohan ini, tapi itu dulu, sebelum pria brengsek itu meninggalkan kami demi janda yang kaya raya.
Sejak kecil, aku diboyong ke kota ini oleh ayah dan ibuku. Berniat mengadu nasib di tengah segala himpitan ekonomi. Keahlian ayah dalam memperbaiki kendaraan, membuatnya diterima bekerja di sebuah bengkel. Dari penghasilannya itulah kami bisa bertahan hidup di kota ini. Kami mengontrak sebuah rumah sederhana di pinggiran kota.
Malam itu, saat aku masih duduk di kelas dua SD, ayah pulang dengan tubuh yang sempoyongan. Dengan menggebrak pintu, ia berjalan menuju kamarnya. Ibu yang sedari tadi menunggunya sontak kaget dan terbangun dari tidurnya. Mendengar suara gebrakan pintu itu, aku pun terjaga dari tidurku dan segera keluar dari kamar untuk mencari sumber keributan itu. Aku tak tahu persis apa yang terjadi. Yang kulihat saat itu hanya ayah yang membawa tas besar dan ibu yang tersungkur di hadapannya sambil menangis dan menahan kaki ayah. Hentakan kaki ayah membuat tangan halus ibu lepas dari kakinya. Dengan langkah yang terburu-buru ia menuju keluar. Aku mengikutinya sambil terus menangis. Kuraih tangan yang selama ini aku salami sebelum berangkat sekolah, tapi dengan kasarnya ia mendorong tubuh kecilku hingga aku terjerembab jatuh ke tanah. Ia masuk ke dalam mobil mewah, seorang wanita paruh baya telah menunggu di sampingnya. Mereka pun melesat pergi meninggalkanku dan ibuku. Ah, peristiwa itu takkan pernah terlepas dari ingatanku.
Akhirnya aku tiba di depan rumahku. Rumah yang sebenarnya bukan milik kami. Di luar terlihat ibu dengan dandanan yang glamour dan sedikit terbuka bersama om-om yang entah siapa namanya. Sejak ayah meninggalkan kami, ibu jadi sering ke luar malam. Saat itu ia hanya memberi alasan ingin keluar membeli sesuatu dan menyuruhku untuk segera tidur dan tidak menunggunya. Namun, kini aku tahu semuanya, ibu menjual harga dirinya untuk menghidupi kami. Rumah ini pun pemberian om-om yang sering jalan dengannya. Sungguh ironis memang, gara-gara pria itu ibu jadi seperti ini.
“Ra, baru pulang?” sapaan ibu membuyarkan lamunanku
“Eh, iya” jawabku
Om-om itu melemparkan senyum sok manisnya kepadaku. Aku hanya membalas dengan tatapan sinis ke arahnya lalu segera pergi dari situasi yang tak ingin aku lihat ini.
Matahari mulai keluar dari peraduannya, dering jam wekerku memecah kesunyian kamarku. Kuintip jam weker dari balik selimutku. Pukul 06.15 ???? ya ampun, bisa-bisa aku terlambat lagi. Aku berusaha mempercepat mandi dan mengenakan seragamku dengan segera. Kutarik tas yang berada dalam tumpukan pakaianku yang entah itu bersih atau kotor aku tidak peduli. Semalam, aku melempar tas itu begitu saja, dan kini aku belum mengganti isi di dalamnya sesuai jadwal hari ini. Setelah itu, aku segera berangkat ke sekolah. Terlintas dalam benakku untuk berpamitan dengan ibu, seperti dulu sebelum berangkat sekolah aku menyalami tangannya dan ibupun mencium hangat keningku. Namun, angan-angan itu segera buyar dalam lamunanku karena kenyataan sekarang mengatakan hal yang berbeda, ibu masih belum pulang dari semalam tadi. Ah sudahlah, aku tidak mau memikirkannya terlalu panjang.
Setelah naik turun angkot dua kali, akhirnya aku sampai di ujung gang sekolah. Aku berlari secepat kilat untuk sampai di sekolah. Namun, apa daya usahaku sia-sia, karena begitu sampai di depan sekolah pintu gerbang baru saja ditutup dan peraturan di sekolahku tidak mengijinkan muridnya masuk jika terlambat walaupun hanya beberapa detik. Namun, aku tak kehilangan akal, aku masih bisa masuk ke dalam sekolah lewat pintu rahasiaku. Aku beranjak menuju belakang sekolah. Tengok kanan dan kiri untuk memastikan keadaan sekitar aman. Lalu aku mulai memanjat dinding belakang sekolah yang menurut banyak orang cukup tinggi, tapi bagiku itu biasa saja, tidak terlalu tinggi karena aku sudah biasa memanjatnya jika mombolos bersama teman-temanku. Hap..!! satu loncatan indah mendaratkanku ke dalam sekolahku ini. Aku segera menuju gudang, aku malas mengikuti pelajaran di kelas terlebih lagi jam pelajaran pertama adalah Pelajaran Matematika. Aku tak ingin melihat wajah guru Matematika yang menyeramkan itu. Sudahlah, aku membolos saja hari ini.
Di gudang, Ruli, Amel, Budi dan beberapa siswa lain yang tergabung dalam Genk yang diketuai Ruli pun sudah berada disana. Kepulan asap rokok menyambut kedatanganku,
“Akhirnya datang juga, kemana aja lu Ra kok baru nyampe??” tanya Ruli dengan ekspresi yang sudah aku kenali. Ya, ia sedang mabuk.
“Biasa, telat” jawabku singkat
“Gila, telat berapa bulan lu?? Kok nggak cerita ama kita-kita sih??” serobot Amel yang juga sedang mabuk
“Ngaco aja lu, dia tuh terlambat masuk sekolah” kata Budi menengahi
“Oooo”
“Bud, bagi rokok dong” pintaku
Budi menyerahkan sebungkus rokok yang telah dibuka.
“Lu nggak minum Ra?? masih banyak nih??” tanya Ruli sambil menunjuk botol-botol minuman yang berserakan disekitar kami
“Iya ntar” jawabku sambil menyulutkan api pada sebatang rokok yang telah aku ambil.
Beginilah hidupku, terjerumus dalam pergaulan bebas bersama anak-anak “nakal” di sekolahku. Huft…sebenarnya aku tak mau seperti ini, aku malu terlebih lagi jika cowok yang selama ini aku sukai tahu kelakuanku yang sebenarnya. Entahlah, mungkin dia sudah tahu dari yang teman-teman yang lain bahwa aku ini dicap sebagai siswi yang “nakal”. Tapi, aku merasa lebih berharga berada dalam kerumunan anak-anak “nakal” ini. Aku menemukan ketenangan walaupun tak kurasakan kedamaian yang abadi dalam lingkungan ini.
BRAKK!!! Pintu gudang tiba-tiba terbuka. Membuyarkan segala lamunanku. Kepala sekolah, Wakil kepala sekolah, Guru BP dan beberapa anak OSIS dan MPK menggerebek basecamp kami. Seorang cowok kemudian datang menyusul rombongan kepala sekolah sambil membawa beberapa surat. Oh My GOD, Randy!! Sang ketua OSIS yang selama ini aku sukai terlibat dalam penggerebekan ini, ya ampun mau ditaruh dimana mukaku??. Kepala Sekolah menyuruh semua yang ada di dalam gudang untuk keluar. Di depan pintu, Randy menyerahkan surat yang ia bawa untuk masing-masing orang. Tiba giliranku,
“Ra, kamu kok kayak gini?? Aku pikir kamu cewek baik-baik,” ujar Randy
Tanpa tersadar airmataku menetes perlahan. Kata-katanya ringan namun menusuk tepat di pusat hatiku. Aku hanya bisa tertunduk, tak berani menatap wajah orang yang aku sukai.
“I’m very disappointed with you” bisiknya sambil menyerahkan amplop surat itu ke tanganku.
Dekat, sungguh dekat bisikannya di telingaku. Baru kali ini ia melakukannya dan mungkin ini untuk yang terakhir kalinya ia mau dekat-dekat denganku. Aku segera berlari mengikuti “tersangka-tersangka” lain yang sudah berada di depanku. Kami digiring ke tengah lapangan untuk menerima omelan sekaligus hukuman. Mungkin bagi teman-teman “seperjuangan”ku hal ini sudah biasa, terbukti mereka terlihat tenang dan santai walaupun ketika itu semua murid di sekolahku melihat ke arah kami, seakan-akan kami adalah objek pertunjukan. Namun, bagiku penggerebekan ini adalah pengalaman pertamaku karena selama ini aku selalu lolos dari razia yang dilakukan sekolah. Semua rasa telah tercampur menjadi satu. Kini yang aku inginkan hanyalah pulang ke rumah dan menyembunyikan mukaku di balik bantal. Akhirnya cap “anak nakal” benar-benar telah ada pada diriku. Setelah menerima omelan dan menjalani beberapa hukuman hingga bel pulang sekolah sudah berbunyi sekitar dua jam yang lalu, kamipun diizinkan pulang dengan membawa “oleh-oleh” surat panggilan orangtua plus skorsing selama seminggu.
Aku pulang dengan perasaan malu, sedih, takut, entah apa yang terjadi pada diriku kini. Aku tak sanggup berucap sepatah katapun. Tiba-tiba semangatku untuk pulang ke rumah hilang, padahal tadi aku ingin sekali cepat sampai di rumah dan manyembunyikan wajahku di balik bantal. Jam tanganku menunjukkan pukul 16.35. Masih terlalu siang bagiku untuk pulang ke rumah. Aku terus melangkahkan kakiku walaupun aku tak tahu arah tujuanku. Angkot-angkot yang berseliweran di sampingku tak sedikitpun menarik perhatianku untuk menaikinya. Langkahku mengantarkanku menyusuri jalan demi jalan. Rasa lelahku mampu terkalahkan oleh perasaan bersalahku, bahkan peluh yang sedari tadi berkucuran pun tak kuhiraukan. Kaki ini terus melangkah walaupun tak semantap langkah kakiku saat berangkat sekolah.
Ciiiittttt…..tiba-tiba sebuah mobil sedan mewah berhenti mendadak, pemiliknya berusaha mengerem dengan sekuat tenaga dan hingga akhirnya bemper depan mobilnya tak sempat mengenai samping kanan kakiku. Aku segera tersadar dari lamunan panjangku sedari tadi. Terdengar omelan dan teriakan sang pengemudi itu dari dalam mobil. Huft, hari ini aku merasa tak beruntung, datang sekolah terlambat, berniat bolos malah terkena razia, dapat hukuman serta omelan dari kepala sekolah beserta jajarannya, pulang hampir ketabrak mobil, disemprot pula oleh sang empunya mobil dan yang terparah dan paling menyakitkan adalah dicap sebagai “cewek nggak baik” alias “cewek nakal” oleh seluruh warga sekolah yang menyaksikan kejadian tadi, terutama sang Ketua OSIS pujaanku, Randy.
Jam pada ponselku menunjukkan pukul 19.23. Setelah berkeliling tak tentu arah, akhirnya ayunan langkahku membawa raga ini menuju kompleks rumahku. Pemandangan tak biasa seketika muncul di depanku. Para penghuni kompleks perumahan yang tak biasanya ke luar rumah, malam ini terlihat sibuk dan panik. Ada yang berlarian, ada yang sibuk menelepon dan memperlihatkan mimik kekhawatiran, ada yang sibuk mengeluarkan mobil dan memasukkan barang-barang berharga ke dalamnya, dan semua itu terasa ganjil di mataku. Memasuki blok menuju rumahku, terasa kehangatan yang entah darimana sumbernya. Hawa seperti ini membuatku merasa gelisah, ada apa ini??? Semua orang terlihat panik, ada gelombang udara yang menghantarkan rasa hangat, hangat dan semakin aku melangkah ke depan semakin panas. Sirine mobil yang selama ini aku dengar hanya dalam televisi kini berubah jadi nyata. Dua unit mobil pemadam kebakaran berhasil menyalip langkahku dan bergerak cepat di antara kerumunan warga yang berkumpul di depan rumah nomor 78. Rumah nomor 78?? Itu rumahku!!
Ganasnya si jago merah itu menjilati setiap sudut rumahku, bagai tak ada ampun lagi untuk rumah yang tak bersalah itu. Ibu, di mana ibuku??? Di mana ibuku??? Aku berusaha masuk ke dalam. Namun dihalangi oleh petugas pemadam kebakaran dan beberapa tetangga yang tak terlalu kukenal.
“Ibu saya ada di dalam pak??” teriakku sambil menangis dan meronta-ronta
“Tenang nak, ibu kamu sudah kami selamatkan, sekarang beliau ada di pos kesehatan” ujar salah seorang petugas
Aku berbalik dan segera mencari pos kesehatan yang dimaksud oleh petugas tadi. Kutemukan ibuku terbaring lemah dengan perban pada sebagian tangan kanan dan wajah bagian kanannya. Melihatku datang, isak tangisnya pecah. Aku segera memeluknya, pelukan yang baru kali ini kami lakukan lagi.
Keesokannya, siraman seember air membangunkan kami dari tidur lelap kami di tenda darurat yang sengaja dibangun. Om-om yang tempo hari jalan dengan ibuku tiba-tiba datang kemudian memaki-maki ibu. Dengan kasarnya ia menarik tangan ibu yang perbannya basah karena siraman air tadi dan menyeretnya keluar. Ibu menjerit kesakitan sambil terus menangis. Aku tak mengerti jalan pikiran Om-om itu. Kutarik kerah belakang bajunya dan kutampar pipinya. Namun ia menghempaskan tubuhku dan ibuku, hingga kami tersungkur di bawah kaki orang-orang yang telah berkumpul di luar.
“Dasar wanita tak tahu diri!! Sudah enak dikasih tumpangan, lu malah bikin rumah gue habis terbakar” maki Om-om tadi
“Heh, jangan asal nyalahin orang deh!! Lagian bukannya lu sendiri yang maksa kita buat ninggalin tu rumah?!” jawabku lantang
“Kurang ajar lu!! Pergi lu dari sini!!!” teriaknya sambil menunjuk ke arah kami
“Iya usir aja, mereka kan pembawa sial” bisik yang lain seakan memojokkan posisi kami
“Baik, kita bakal pergi dari penjara ini!!” ucapku mantap
Aku masuk ke dalam tenda dan mengambil sisa barang-barang milik kami. Kemudian aku merangkul bahu ibuku dan memapahnya untuk pergi dari kompleks ini. Aku tak sempat memikirkan akan kemana tujuan kami. Dalam benakku hanyalah terpikirkan menyelamatkan ibuku dari hinaan pecundang-pecundang tadi. Aku terus memapahnya, sesekali kutengok wajahnya yang sembam akibat airmata yang terus keluar dari mata indahnya. Sampai di sebuah halte yang cukup jauh dari kompleks perumahan yang seperti kompleks pemakaman Jeruk Purut itu, kami beristirahat sebentar sembari meluruskan otot-otot yang menegang.
“Bu, kita mau kemana??” tanyaku sambil menatap ke arah depan dengan pandangan kosong
“Nggak tahu Ra,” jawab ibu singkat
Tiba-tiba otakku tertuju pada sebuah tempat. Ya, rumah nenek di Cirebon. Aku pun merogoh saku, kutemukan selembar dua puluh ribuan, dua lembar sepuluh ribuan, dua lembar lima ribuan dan tiga lembar seribuan, masih belum cukup untuk sampai ke Cirebon. Aku teringat uang simpananku dalam tas, uang yang tadinya akan kubelikan minuman untuk pesta di rumah Amel nanti. Tambahan uang seratus dua puluh ribu kurasa cukup untuk bekal kami ke Cirebon. Kugenggam tangan ibu dan segera masuk dalam bus arah Cirebon yang saat itu berhenti tepat di depan kami. Ibuku terdiam, hanya mengikuti langkahku. Rumah nenek satu-satunya harapanku kini, semua memori tentang rumah beliau masih terekam dalam otak kecilku dan lamunan serta bayang-bayang tentangnya mengiringi perjalanan panjang kami.
Lima setengah jam sudah kami menghabiskan waktu dalam perjalanan dan ibuku masih terdiam membisu. Kini kami sampai di Cirebon, tempat dimana nenekku tinggal. Keramaian Pasar Plered manyambut kedatangan kami. Banyak yang berubah dari pasar sederhana ini. Setelah kebakaran pasar pada waktu itu, rupanya struktur bangunannya dibangun kembali dan lebih tertata rapi. Mungkin karena bangunannya baru dan lebih kokoh membuat ongkos sewa per kiosnya lebih mahal, kudengar nenek tak kembali berdagang di sana. Hhmm, semakin aku memikirkan nenek, semakin aku rindu padanya.
Setelah menaiki angkutan pedesaan, kami turun dan mulai menyusuri jalan setapak. Pemandangan sawah dan perkebunan hijau mengiringi langkah kami di sepanjang kanan kiri jalan. Kami berbelok ke sebuah gang sempit menuju rumah nenek. Akhirnya, kami sampai di sebuah rumah sederhana. Debu tebal dan cicitan binatang pengerat yang berlarian seakan menyambut kedatangan kami saat kubuka pintu kayu yang mulai reot itu.
“Assalamu’alaikum” sapaku. Sepertinya rumah ini sudah lama ditinggali oleh pemiliknya.
Tiba-tiba salah seorang tetangga menghampiri kami.
“Maaf Dik, mencari siapa?” tanyanya padaku
“Nenek saya Bu, kami dari Jakarta. Ini ibu saya Ibu Mira dan saya sendiri Rara” jawabku sambil memperkenalkan diri
“Oh..Mira, dan ini neng Rara, sudah besar ya” ujarnya. Aku hanya membalas dengan senyuman.
“Neng, Mbah Sumi sudah meninggal dua tahun yang lalu, kami tidak tahu harus memberi tahu kepada siapa lagi karena kami sendiri tidak tahu keberadaan anak-anak Mbah Sumi” paparnya
Aku tersentak. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Kulihat airmata ibuku kembali mengalir melewati pipinya yang masih luka akibat kebakaran kemarin. Kenapa cobaan datang padaku silih berganti??
Sudah sebulan kami tinggal di rumah peninggalan nenek. Kehidupan kami berubah drastis. Aku berusaha mengejar kembali cita-citaku. Aku mengikuti program paket C agar paginya bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan kami. Sikapku pun menunjukkan perbedaan. Aku jadi lebih dewasa dan kini lebih dekat dengan-Nya. Ibuku pun berubah, namun beliau berubah menjadi seorang yang pesimis, pemurung dan kerjanya hanya meratapi nasib, selalu termenung tanpa melakukan apa pun. Disini, aku mendapat banyak teman. Pertemanan yang baru kurasakan makna sebenarnya, susah senang bersama dan saling berbagi, tentunya berbagi dalam hal positif. Robi, salah satunya yang sering berbagi denganku. Ia adalah teman kecilku dulu. Ia selalu membantuku baik dalam pelajaran, pekerjaan bahkan dalam kesusahan. Ia juga yang mengajariku akan arti kehidupan yang sebenarnya dan keyakinanku yang terabaikan selama ini.
Seperti saat ini, dibulan Ramadhan ini, aku dibimbingnya untuk melaksanakan kewajibanku lagi. Puasa, mengaji, sedekah, hal-hal macam ini pernah aku tinggalkan begitu saja. Dengan tekad yang bulat aku berusaha memperdalam agamaku, terlebih lagi suasana dan lingkungan di sini sangat mendukung. Lingkungan yang sangat erat rasa persaudaraannya dan kental akan nuansa religius Aku pun berniat membawa ibu ikut serta denganku ke mushola atau jika ada pengajian. Namun agak sulit rupanya membuat ibu bangkit dari keterpurukan, tapi aku akan terus berusaha karena hanya beliau satu-satunya yang kumiliki sekarang.
Waktu sahur dan buka puasa terasa hampa, ibu tak menemaniku. Saat Shalat Tarawih pun beliau tak menghiraukan ajakanku. Teman-teman lain, terutama Robi tak pernah henti memberiku semangat untuk terus bangkit. Mereka selalu menyempatkan datang ke rumah dan mengajakku untuk sholat, mengaji, atau mengikuti pengajian. Dalam setiap sujudku tak pernah lepas dari lisan dan hati ini untuk mendoakan ibuku tercinta.
Malam terakhir di bulan Ramadhan pun tiba. Semua warga bersuka cita menyambut hari kemenangan esok. Alunan takbir bersahutan dari mushola dan masjid-masjid. Aku menghampiri ibu yang sedang duduk di beranda rumah. Sambil menatap bintang dan mungkin merasakan merdunya takbir yang saling bersahutan, ia kembali termenung. Aku duduk di sebelahnya dan mengikuti pandangannya.
“Bu, kita sudah melewati banyak cobaan yang berat. Susah senang kita bersama. Pahitnya kehidupan pun pernah kita rasakan. Malam ini pernah Rara rasakan jauh sebelum kita diuji oleh-Nya. Namun sekarang, Rara rindu, rindu menikmati suasana seperti ini bersama ibu…” isak tangisku mulai tak terbendung
Ibu seperti terhenti dalam lamunannya. Beliau berbalik menatapku. Tiba-tiba peluk hangatnya menerpa tubuhku yang saat itu lemah bagai jiwa yang rapuh. Airmatanya mengalir membasahi belakang bajuku.
“Maafin Rara ya Bu” bisikku
“Rara sayang ibu” lanjutku disela helaan nafas lega
“Maafin ibu juga ya nak, ibu juga sayang Rara” ucap ibu
Kalimat itu membuat hatiku terasa seperti lepas dari beban dan belenggu yang selama ini mengikat hatiku. Malam ini sungguh tak akan pernah terlupakan.
Wekerku berbunyi tepat pukul tiga lebih tigapuluh menit. Kurapikan tempat tidurku, setelah itu mandi dan kusempatkan melaksanakan sholat malam. Kuminta pada-Nya agar diberi kesempatan untuk tetap merasakan hal yang semalam terjadi. Selesai sholat, aku pergi ke dapur untuk memasak sedikit persediaan makanan yang sudah aku beli khusus untuk lebaran. Tak banyak memang, hanya ketupat, opor ayam dan sedikit kue. Waktu sudah menunjukkan pukul empat lewat duapuluh lima menit. Adzan shubuh mulai berkumandang. Ku ambil air wudhu lalu segera pergi ke mushola. Robi sudah menantiku di depan rumah. Ia selalu melakukannya setiap hari. Setelah selesai sholat, kami pun kembali ke rumah masing-masing.
“Nanti sholat Ied aku jemput ya” ucapnya
“He??” aku tersentak kaget.
Tak biasanya Robi mengucapkan kalimat seperti itu. Aku melihat ke arahnya. Dia hanya tersenyum kemudian berlalu. Senyumku pun mengembang begitu saja. Segera aku masuk ke dalam rumah.
“Assalamu’alaikum, bu…” ucapku
setelah meletakkan mukenah aku langsung menuju ke dapur untuk menyiapkan makanan dan kue-kue kecil dimeja.
“Buu…” sesekali aku memanggilnya untuk membangunkannya
Tak terdengar jawaban apa pun. Aku menuju kamarnya dan mengetuk pintu kamarnya.
“Bu…” ku panggil lagi namun tetap tak ada jawaban
Akhirnya kubuka pintu kamarnya. Dan kulihat ibuku sedang bersujud. Subhanallah, beliau mau melaksanakan sholat. Aku terharu melihatnya. Lagi-lagi air mataku menetes melewati pipiku dan meresap ke dalam bajuku. Setelah selesai sholat dan berdoa, aku menghampirinya kemudian memeluknya. Semua hanyut dalam suasana haru, terdiam tak mampu berucap, hanya tangis yang mampu artikan perasaan kami saat ini.
Matahari kian muncul dari peraduannya, dengan senyuman kugenggam tangan ibuku keluar rumah menuju masjid. Robi yang sudah menungguku di depan rumah tersentak kaget, ia tersenyum seraya mengucapkan hamdallah. Kami bertiga pun melangkah untuk menjemput kemenangan kami. Rasa syukurku tak henti-henti kuucapkan pada-Nya, karena telah memberikan mutiara sebagai kesempurnaan kemenanganku.

Isu Lingkungan dan Kaitannya dengan Pengentasan Kemiskinan

Cuaca ekstrim yang kerap terjadi di Indonesia baru-baru ini menunjukkan gejala alam yang sangat berubah. Gejala alam yang tidak biasa ini menunjukkan begitu luasnya dampak perubahan iklim. Perubahan iklim juga berpengaruh terhadap lingkungan dan alam. Akibatnya, dapat diperkirakan menjelang akhir abad ini, lebih dari 50000 jenis tumbuhan akan mengalami kepunahan, hampir 4000 spesies vertebrata endemik berpotensi hilang, dan sekitar 60 persen ekosistem hutan dan lahan, hingga karang laut serta sabana akan mengalami kerusakan yang cukup serius.
Secara disadari atau tidak, kerusakan lingkungan ini berdampak pada aspek ekonomi di wilayah-wilayah tersebut, khususnya Indonesia. Indonesia memiliki banyak sumber daya alam yang harusnya bisa digunakan untuk ikut membantu memecahkan permasalahan yang terjadi, misalnya permasalahan ekonomi. Dari segi sosial, Presiden Yudhoyono mengungkapkan, penuntasan kemiskinan dapat mengalami hambatan besar dikarenakan penurunan nilai dan pertumbuhan ekonomi akibat penyusutan kekayaan alam. Dari sini bisa disimpulkan bahwa lingkungan dan alam sangat berperan penting dalam membantu memecahkan masalah perekonomian negeri ini. Namun sayangnya hal ini kurang mendapat tanggapan yang serius dari pihak pemerintah maupun masyarakat. Seperti yang kita ketahui, Pemerintah selalu memfokuskan kebijakan-kebijakannya pada sumber daya manusianya dan mengesampingkan isu lingkungan dan pemanfaatan sumber daya alam secara efisien. Hal ini bisa dibuktikan dengan rencana-rencana kerja capres dan cawapres pada saat musim pemilu, yang secara besar-besaran menyuarakan tentang penuntasan kemiskinan dan beberapa permasalahan lain yang terjadi, dengan memperbaiki kualitas sumber daya manusia.
Tekanan yang meningkat dalam memenuhi tuntutan penduduk dan pengelolaan lingkungan yang tidak memadai merupakan suatu tantangan tersendiri dalam perekonomian di Indonesia. Dengan adanya kerusakan alam dan lingkungan, membuat pemerintah harus menambah anggaran untuk memperbaikinya, disamping harus menyelesaikan masalah-masalah lain seperti kesehatan, pendidikan dan lain-lain. Dapat disimpulkan bahwa dengan adanya kerusakan lingkungan, anggaran dana yang harus disediakan pemerintahpun bertambah, hal ini membuat masalah perekonomian Indonesia semakin parah.
Perubahan iklim juga membuat tantangan sumber daya alam terus terjadi dan menjadi lebih rumit. Sumber daya alam yang tersedia belum dikelola secara berkelanjutan dan adil, padahal banyak aspek yang mendukung perekonomian dan menyediakan pelayanan lingkungan yang tersedia di alam. Jadi, meskipun terdapat investasi yang besar pada kebijakan lingkungan dan sumber daya alam, pelaksanaan peraturan dan prosedur dilapangan masih buruk dan lambat. Selain itu, pengetahuan tentang dampak negatif lingkungan yang diperkirakan akan terjadi dari pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan masih lemah. Disamping itu pertimbangan-pertimbangan kebijakan lingkungan masih sangat minim, terutama dalam proses perencanaan investasi publik dalam pemanfaatan sumber daya alam.
Faktor yang sangat penting dalam upaya mengatasi masalah lingkungan di Indonesia adalah masyarakat itu sendiri. Nilai-nilai lingkungan belum sepenuhnya tertanam dalam diri mereka, sehingga mereka kurang menghargai sumber daya alam dan lingkungan. Bencana alam yang kerap terjadi memang sedikit membuka mata masyarakat tentang masalah lingkungan. Namun untuk langkah selanjutnya, perlu dilakukan upaya-upaya untuk mengetahui sejauh mana pemahaman akan pentingnya lingkungan dimasyarakat.
Sektor sosial, lingkungan dan ekonomi sangat bersinggungan dan berhubungan satu sama lain. Kerusakan alam ternyata membawa dampak yang cukup serius dikehidupan masyarakat, salah satunya adalah masalah ekonomi. Dengan keadaan alam yang semakin kritis ini, pemerintah memerlukan anggaran dana yang lebih untuk memperbaiki keadaan alam yang sudah rusak ini. Belum lagi dengan masih banyaknya persoalan negara yang belum terselesaikan, isu lingkungan ini sangat bersentuhan dengan kemiskinan yang terjadi di Indonesia. Diharapkan dengan adanya perbaikan dan pemanfaatan sumber daya alam yang maksimal dan efisien mampu mengurangi angka kemiskinan di Indonesia, salah satunya yaitu dengan membuka kembali sektor-sektor yang berpotensi membangun perekonomian negara.

Nama   : Khaerlita Syahri

NRP    : E44100020

Laskar : 17

Cerita Inspirasi 1

Perjalanan yang Rumit

Perjalanan yang rumit. Yah, lebih tepatnya perjalanan pendidikanku yang rumit. Dimulai sejak awal masuk SMP, aku terbuang dan terhempas karena temanku dan kekayaannya. Tersingkir dari sekolah favorit dan terbuang ke sekolah pinggiran kota. Not too bad, tapi ternyata disan pun aku mendapat sebuah hinaan. Awalnya guru-guru dan teman-teman baruku memandang sebelah mata, karena aku satu-satunya anak yang berasal dari kabupaten. Setelah beberapa waktu berlalu, aku mulai bisa menyesuaikan dan ikut bersaing bersama yang lain. Tiga tahun berlalu dan alhamdulillah selama itu aku bisa mempertahankan prestasiku dan sempat memperoleh beasiswa. Aku lega karena dari hinaan dan pandangan miring itu aku bisa bangkit dan membuktikan pada semua bahwa aku bisa.

Beranjak ke SMA. Lagi-lagi aku memilih SMA favorit sebagai tujuanku untuk melanjutkan study. Dengan NEM yang pas-pasan (karena ternyata NEM teman-temanku jauh lebih besar) aku memberanikan diri menyerahkan berkas ke sekolah itu. Saat pengumuman, bersama kakak dari ayahku (sering kupanggil Ibu’) aku melihat pengumumannya di SMA yang menjadi pilihan keduaku. Kucari dari sekian banyak nama. Akhirnya kutemukan namaku tertulis diantaranya. Ini berarti aku belum berhasil masuk ke sekolah yang menjadi impianku. Namun aku bersyukur, terlebih lagi aku masuk dikelas yang katanya dikhususkan oleh sekolah yang sedang merintis sebagai sekolah RSBI ini. Dikelas ini aku menemukan berbagai macam karakter teman dan aku bersyukur bisa mengenal mereka dan selama tiga tahun bersama mereka (walaupun kadang merasa bosan juga). Tiga tahun merupakan waktu yang sangat cukup untuk membuat kita merasa kompak dan sudah seperti keluarga. Saat kelas XII, saat dimana banyak universitas datang dan memperkenalkan tentang universitasnya masing-masing, aku menjadi sangat bersemangat untuk terus melanjutkan pendidikanku disalah satu universitas tersebut. Sebelum menunjuk sebuah universitas, aku berpikir tentang jurusan apa yang akan aku pilih dan dimana aku harus mendalami ilmunya. Saat aku membicarakannya dengan orangtua, orangtuaku hanya diam. Aku mengerti. Aku mulai berpikir bagaimana agar aku tetap bisa melanjutkan studyku. Lewat PMDK salah satunya, karena biaya PMDK tak semahal ujian-ujian yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi di berbagai daerah. Undangan PMDK dari perguruan tinggi yang datang ke sekolahku adalah USMI (IPB). Aku memutuskan untuk mengikutinya dengan mengambil mayor kimia pada pilihan pertama dan biokimia pada pilihan kedua. Pilihan tersebut tergolong nekat, karena kimia dan biokinia grade-nya tinggi. Namun, karena aku menyukai kimia akupun memilihnya. Sambil menunggu pengumuman akupun menyusun rencana dimana lagi aku akan mencoba jika aku tak lolos seleksi USMI. Lalu guruku menyarankan aku untuk mengikuti PMDK di sebuah universitas, sebut saja X. Suatu hari, aku dipanggil ke ruang BK untuk membicarakan PMDK tersebut. Disana juga ada dua orang bapak yang merupakan kerabat dari temanku. Rupanya bapak itu adalah salah satu “orang” penting di universitas tersebut dan beliau sedang menunggu temanku. Sambil menunggu kerabatnya, bapak itu berbincang-bincang denganku. Beliau menanyakan banyak hal kepadaku dan semua jawaban yang aku kemukakan rupanya menyimpan makna tersendiri baginya. Beliau kemudian membalas jawabanku tadi. Dengan sederhananya, aku menarik kesimpulan bahwa bapak itu meragukan aku mengikuti PMDK dengan jurusan teknik kimia yang aku pilih.

Semangatku langsung turun. Down dan merasa tidak berani lagi mendaftar disana. Beberapa teman mengerti akan posisiku, mereka menenangkan dan memberiku semangat. Mereka tahu bahwa aku sangat meyukai kimia, tapi ada juga yang seperti meremehkan. Aku dilemma. Aku berdoa dan memohon petunjuk Allah. Aku juga bercerita tentang ini kepada orangtuaku. Sebuah semangat dari orangtua, keluarga dan teman-temanku serta kata-kata dari ibuku yang aku tanamkan dipikiranku “ibuku saja tidak pernah melarang aku untuk mencoba mendaftar, kenapa orang itu harus menghalangi?”. Dari situlah aku terus mengikuti pendaftaran tersebut.

Kabar mengejutkan datang, berkas yang harus dikirimkan ternyata harus dikirim lebih awal dari rencana sekolah mengirimkannya. Akupun sibuk mempersiapkan segalanya. Disela kesibukan itu, aku bertanya kepada guruku, apa sebaiknya tidak menunggu pengumuman dari IPB dulu. Jika ada kesempatan kenapa tak dicoba dulu, begitu jawab guruku. Akhirnya semua berkas selesai dan siap dikirim oleh pihak sekolah.

Awal Februari, pihak IPB menyerahkan pengumuman hasil USMI. Waktu itu sehabis sholat Dzuhur aku dan beberapa teman yang ikut mendaftar di IPB pergi ke ruang BK. Begitu memasuki ruang BK, aku dan temanku Dini disalami oleh guru yang ada disitu. Aku semakin bingung. Salah satu guruku mengatakan kami diterima. Aku masih belum percaya. Salah satu guruku menunjukkan surat yang dikirim dari IPB. Ya disitu tertulis namaku dan Dini, temanku.  Aku menunjuk dengan tangan namaku, lalu kulihat deret berikutnya, silvikiltur, deret berikiutnya, tertera bintang-bintang dengan keterangan calon penerima beasiswa bidik misi. Akupun bertanya-tanya, silvikultur?? Beasiswa??. Aku menanyakan hal tersebut kepada guruku. Beliau mengatakan bahwa aku mendapat beasiswa dan aku dialihkan ke mayor silvikultur. Dialihkan, ya waktu itu aku memang menyetujui jika dialihkan. Namun aku mengira bahwa akan dialihkan ke D3, karena waktu itu aku memang memilih analisis kimia.

Lagi-lagi dilema. Aku sangat bersyukur menjadi calon penerima beasiswa, tapi aku  harus dialihkan ke mayor yang bukan pilihanku dan aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang jurusan dan fakultasnya. Dengan segala pertimbangan, akhirnya aku memutuskan untuk mengambilnya.

Aku teringat berkas yang pernah aku kirim ke sebuah universitas. Ketika aku menanyakan kelanjutannya pada guruku, beliau  menjelaskan bahwa berkas yang kukirim bisa dibatalkan dan digantikan oleh teman yang lain karena memang batas waktunya masih ada. Akhirnya aku menyetujuinya.

Sekarang, disinilah aku sekarang. IPB menjadi tempatku melanjutkan study dengan objek belajar yang berbeda. Tak lagi dimayor kimia seperti yang aku impikan tetapi kini silvikultur yang akan menemaniku hingga aku lulus 3,5 atau 4 tahun kedepan., amiin. Dari pengalaman inilah aku mendapat banyak pelajaran yang sangat berharga.

Nama : Khaerlita Syahri
NRP : E44100020
Laskar : 17
CERITA INSPIRASI 2

Study Tour

Dua bulan telah berlalu semenjak kami menempati kelas baru, yakni di kelas XI IPA 1. Tak banyak teman baru yang kami dapat, karena mayoritas kelas ini berasal dari kelas X yang sama, yaitu X-8, hanya beberapa orang saja yang merupakan pindahan dari kelas X yang lain. Awalnya “anak-anak” baru itu membawa sedikit suasana berdeda dengan cara belajar mereka yang menurut kami terlalu menunjukkan persaingan dan hal itu membuat kami sedikit merasa terganggu. Namun seiring berjalannya waktu, kami semua bisa menyesuaikan dengan keadaan kelas yang baru.
Setiap tahun, sekolah mengadakan study tour untuk kelas XI. Rencana tempat dan anggaran biayanya pun sudah beredar dikalangan anak kelas XI, terlebih lagi Wakasek Kesiswaan selalu menceritakan detailnya study tour nanti pada saat jam pelajarannya. Ya, tentu saja karena beliau adalah salah satu panitia dalam acara tersebut. Awalnya, pihak sekolah menawarkan beberapa pilihan kota untuk kami kunjungi yaitu Malang, Yogyakarta, Magelang dan Wonosobo dan yang terakhir Bali. Keinginan mayoritas anak-anak kelas XI memang ke Bali, tetapi mengingat biayanya yang relative lebih mahal dari yang lain, maka diputuskan kami akan berkarya wisata ke Yogyakarta, Magelang dan Wonosobo.
Kesibukan menghadapi study tour memang belum terasa, yang ada hanyalah obrolan hangat mengenai rencana-rencana yang akan dilakukan untuk melengkapi study tour bersama teman atau kelasnya masing-masing. Berbeda dengan kelas kami yang sebagian orangnya sudah merencanakan membuat kaos kelas untuk dipakai pada saat study tour nanti. Setelah berdiskusi, terbentuklah sebuah desain kaos lengan panjang dengan nama “Spaichi” dibelakangnya. Ya, Spaichi adalah nama yang dibuat sebagai identitas kelas kami. “Spa” untuk sebelas IPA dan “Ichi” diambil dari Bahasa Jepang yang artinya satu. Sementara sebagian anak mebahas tentang kaos kelas, sebagian kecil dari kami kemingkinan tidak bisa mengikuti study tour dan memesan kaos kelas dikarenakan factor keuangan. Dari sinilah kami memikirkan untuk bisa membantu teman-teman yang mungkin membutuhkan bantuan. Bukan dengan sumbangan dana karena kami juga bukan orang yang berada. Namun kami memikirkan bagaimana caranya agar semua teman-teman “Spaichi” bisa ikut study tour. Kami terus memikirkan dan berdiskusi untuk mencari jalan keluarnya. Sebuah ide muncul, mengumpulkan barang-barang bekas seperti botol minuman, gelas air mineral, kardus ataupun kertas bekas yang nantinya akan dijual dipengumpul barang-barang bekas.
Sepulang sekolah, kami menyebar disekitar sekolah dan mengumpulkan barang-barang tersebut walaupun dari tempat sampah (yang masih layak tentunya). Kami menyimpannya dipojok kelas. Sempat ditegur oleh wali kelas, tetapi akhirnya beliau hanya mengatakan kami harus menyimpannya dengan rapi agar tidak mengganggu. Sudah beberapa wakru berlalu, tetapi kami merasakan hasilnya masih kurang untuk menutupi biaya study tour ini. Lalu sebagian dari kamipun berinisiatif untuk berjualan, dari berjualan kacang, coklat, nasi kuning, hingga aksesoris. Lelah memang kami rasakan, terlebih lagi ada saja sebagian anak yang tidak selalu ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini.
Setelah beberapa waktu kami berusaha mengumpulkan dana dengan sistem yang transparan, bekerja sama demi kebersamaan kelas, akhirnya semua anak-anak “Spaichi” bisa mengikuti study tour. Kami semua lega karena kerja keras dan usaha kami berhasil. Lelah, penat dan semua yang kami rasakan saat itu kini terbayar sudah dengan berhasil membantu teman-teman. Ada sedikit rasa bangga dan haru jika mengingat pengalaman ini. Namun, semua manusia hanya bisa berencana dan berusaha, dan hanya Allah yang menentukan. Dari 40 siswa kelas XI IPA I, ada dua orang yang tenyata tidak bisa ikut dikarenakan sakit dan ibunya meninggal. Kami tidak bisa memaksakan mereka tetap mengikuti study tour ini. Akhirnya, hanya 38 orang dari kelas kami yang berangkat mengikuti study tour, berangkat membawa kenangan dan pelajaran berharga yang takkan pernah terlupakan.

Nusantara / Senin, 26 Juli 2010 12:38 WIB

Metrotvnews.com, Makassar: Sulawesi Selatan menempati angka tertinggi penderita kekurangan vitamin A dari sejumlah provinsi di Indonesia.

“Data WHO (lembaga kesehatan dunia) menyebutkan Sulsel tercatat daerah yang paling tinggi kekurangan vitamin A yang mencapai 2,9 persen saat ini,” ungkap Nurlinda di Makassar, Senin (26/7). Dia menyarankan, agar pemerintah daerah bisa memperhatikan kondisi yang dianggap anak-anak di Sulsel masih membutuhkan penambahan angka kecukupan gizi atau nutrisi.

Paling tidak, anak-anak di Sulsel bisa memperoleh nutrisi dari sejumlah makanan yang mengandung gizi yang cukup seperti susu, madu, dan telur. Menurut dia, ketiga jenis bahan makanan ini memiliki banyak kandungan zat yang dapat meningkatkan kecukupan gizi maupun nutrisi anak-anak.

Selain itu, dia mengakui ketiga sumber pangan ini dapat dengan mudah diperoleh di daerah ini, karena daerah ini merupakan penghasil produk-produk tersebut. Harga ketiga sumber pangan itu relatif terjangkau dan mudah diperoleh di mana saja.

Pelopor Makassar Anak Sehat, Syamsul Bachri Sirjuddin, dalam kesempatan itu juga menyampaikan, provitamin A yang mengandung zat karotin yang terdapat pada susu sangat baik jika di konsumsi anak-anak sejak dini. “Kenapa kita tidak seperti di India? Susu sapi yang ditawarkan langsung ke rumah-rumah. Cara mereka cukup efektif, karena sapinya langsung diajak berkeliling dan ditawarkan langsung dalam bentuk segar kepada warganya,” ucapnya.

Dia menyarankan, agar daerah ini bisa melakukan hal yang sama dengan membudayakan konsumsi minum susu dan beberapa bahan makanan penting lainnya kepada anak-anak melalui sekolah masing-masing. Apalagi, Kabupaten Sinjai yang memproduksi susu segar yang dikenal dengan Susin dijual dalam bentuk kemasan yang sudah memperoleh sertifikasi higienis dan layak konsumsi. (Ant/ICH)

sumber:metrotvnews.com

IPB Badge IPB Badge